,,Paris Trip: Part 1,,

Finally I’m back!!!

Melewatkan komitmen untuk bisa nulis blog di bulan Oktober adalah sesuatu yang tidak membanggakan. Seperti yang gue tulis di postingan sebelumnya, gue sedang mengandung dan mengalami all day sickness (ya, karena gue mengalaminya sepanjang hari, tidak di pagi hari saja) yang membuat gue sampai absen menulis di blog ini. However, I believe in second chance, third chance, and …. chance. So here I am, back on blogging! Yayy!!

Untuk merayakan kembalinya gue ngeblog gue ingin share cerita gue bersama Yosua ke Paris bulan September kemarin. Ya, memang telat banget sih dan sebenarnya sebagian sudah dibahas Yosua di sini dan sini. Tapi tetap saja gue ingin mengabadikan cerita-cerita seru kami di blog pribadi gue.

Oya, beberapa hari yang lalu juga terjadi terror attack di beberapa daerah di Paris. Hal ini tentu saja sangat mengagetkan banyak orang, termasuk gue dan Yosua, terlebih kami pernah menginjakan kaki di (dekat) TKP. Jadi saat melihat berita di TV, sedikit banyak kami merasa relate dengan kejadian ini. My prayer goes to all the victims, family, and everybody there.

So, here it goes the story of our trip in Paris, the city of light, and we all know that light will never go out…

********************

Perjalanan ke Paris ini merupakan perjalanan pertama kalinya bagi gue, makanya gue excited banget apalagi perjalanan kali ini sekaligus untuk merayakan ulang tahun gue, jadi bisa dibayangkan betapa semangatnya gue.

Awalnya gue tanya ke Yosua bulan September di Paris kira-kira lagi musim apa. Lalu Yosua menjawab “sudah mulai fall sih, tapi masih peralihan dari summer juga, ah paling masih panas atau paling dingin juga belasan derajat”. Untuk lebih meyakinkan gue googling dan selalu pantau cuaca di Paris, dan ternyata memang masih sekitar 16-19 derajat. Jadi dalam benak gue, ah ini gak terlalu dingin, hanya seperti kalau kita pakai ac di dalam kamar, gue pasti masih tahan.

Jadi saat packing gue hanya bawa satu jaket dan beberapa syal. Memang gue juga tidak berencana membawa banyak barang, koper yang kami bawa pun hanya koper kecil yang beratnya kalau penuh tidak lebih dari 10 kg untuk perjalanan selama 7 hari. Hal ini dikarenakan gue yang lagi hamil dan tidak bisa bawa barang yang berat, jadi sudah pasti nantinya Yosua lah yang akan membawa semua barang kami, baik itu di bandara, stasiun kereta bawah tanah yang menggunakan tangga, atau di saat-saat tertentu saat kami pindah hotel. Tentunya gue tidak akan membebani Yosua dengan barang bawaan yang banyak bukan.

Setelah melewati flight belasan jam, akhirnya sampai juga kami di Paris. Begitu sampai di Paris kami langsung disambut dengan hujan, ya hujan! Sebenarnya jarak hotel dengan stasiun metro tempat kami turun tidak begitu jauh. Namun derasnya hujan sukses membuat kami kebasahan. Resepsionis yang melihat kami kebasahan langsung mencarikan kami kamar walaupun saat itu seharusnya belum waktunya check-in. Mungkin dia kasihan melihat kami yang sudah basah. Merci monsieur!

Sampai di kamar kami langsung menjemur pakaian kami yang basah dan taruh sepatu kami dekat pemanas ruangan. Untungnya hujan sudah mulai reda, kami langsung bergegas keluar untuk lunch. Kami menyusuri jalan-jalan di dekat hotel kami mencari-cari menu lunch yang tepat untuk hari itu. Pilihan kami jatuh di sebuah resto Italia karena kami ingin mencoba Gnocchi yang jarang kami temukan di Indonesia. Gnocchi merupakan sejenis pasta yang terbuat dari kentang. Biasanya menu ini hanya kami lihat di acara Masterchef and that day we finally gave it a try, and we like it!

IMG20150916135034

Saat itu kami memesan Gniocchi with mozarella cheese, Aglio Olio, dan Pizza Nutela sebagai dessertnya. Saat kami berkenalan dengan owner resto ini, ternyata ownernya orang Italia asli yang sudah lama tinggal di Paris. Pantas saja pastanya enak-enak dan porsinya itu loh, gede pisan! Yosua yang menurut gue biasanya jago banget dalam menghabiskan makanan pun menyerah dengan porsi makanan di sini, hahaa.

Aglio Olio

Aglio Olio


Iyos & Gniocchi

Iyos & Gniocchi


Pizza Nutela

Pizza Nutela

Oya, harga makanan di Paris cukup mahal dibandingkan di Jakarta. Untuk seporsi pasta biasanya minimum seharga 12 Euro. Untuk main course lain seperti grilled chicken atau duck confit di atas 20 Euro, terlebih untuk berbagai jenis steak. Jadi saran gue, jangan sibuk mengkalkulasi harga makanan yang kita pesan ke dalam Rupiah, kita bakalan stress dan bisa-bisa jadinya gak pesan apa-apa. Kalau mau mengimbangi agar kantong tidak jebol dan saat kembali ke Indo masih bisa makan enak, bisa makan crepe yang banyak dijual di pinggir jalan. Atau seperti gue dan Yosua, dengan cara mencari breakfast murah di McDonald atau KFC. Ya benar sekali! Karena untuk menu breakfast satu orang di Paris biasanya sekitar 10-15 Euro (menu: 1 teh/espreso/coklat panas, 1 croissant, 1 egg), sedangkan di McDonald dengan 5 Euro sudah bisa beli 2 burger. Beda banget kan :).

Hujan kembali mengguyur Paris saat kami keluar dari resto. Jadi kami memutuskan kembali ke hotel dan setelah hujan reda baru melanjutkan perjalanan kami. Sayangnya, entah karena kekenyangan atau kecapean kami malah ketiduran di hotel sampai tiba-tiba gue bangun dan melihat hari sudah gelap di luar. Ternyata sudah hampir jam 9 malam. Yosua yang ikut bangun juga kaget, hahaa. Akhirnya malam itu kami isi dengan makan Piza Nutela hasil bungkusan tadi siang dan kembali tidur untuk re-charge tenaga untuk esok hari. What a day!

**********

Esok hari, saking semangatnya kami sudah bangun dari pagi-pagi sekali, terlebih gue yang memang sudah merasa mual-mual sejak subuh. Kami tidak sabar ingin segera menyusuri jalan-jalan di kota romantis ini. Kota Paris baru mulai beraktivitas sekitar jam 8 pagi (cukup berbeda bila dibandingkan dengan Jogja yang jika kita keluar jam 7 pagi maka para penjual pecel sudah ramai menawarkan jualan mereka). Di jam ini kita baru melihat orang-orang mulai keluar mencari breakfast sambil menuju tempat kerja mereka.

Begitu keluar hotel, gue langsung disambut desiran angin yang “gak nyantai”. Gue baru sadar ternyata 16 derajat Jakarta beda jauh dengan 16 derajat Paris. Gue kedinginan. Lahir dan tumbuh besar di daerah dingin (baca: Cimahi) seperti Yosua memang sangat membantu dibandingkan lahir dan tumbuh besar di daerah panas (baca: Palu) seperti gue. Yosua sering sekali tertawa sambil menggoda gue, bagaimana bisa gue merasa kedinginan saat cuaca (menurut dia) normal-normal saja. Gue yang awalnya kesel akhirnya ikut menertawakan diri gue sendiri, iya ya payah banget gue kedinginan begitu. Oh dear, where’d you get the warm?

Well, meskipun kedinginan gue tetap “sok santai” dan melanjutkan perjalanan. Kami mengawali hari itu dengan breakfast di McD. Walaupun harus berjalan kaki sekitar sekilo, demi breakfast seharga 5 Euro kami rela, hahaa. Ini dia!

IMG20150917080616
IMG20150917082834
IMG20150917083808

Selesai breakfast, kami langsung menuju salah satu landmark kota Paris yang paling populer, The Eiffel Tower. Kami tidak terlalu lama berfoto-foto di depan Eiffel Tower karena kami ingin naik ke atas tower tersebut dan kami melihat antriannya sudah cukup panjang. Di pekarangan Eiffel Tower cukup banyak orang yang berfoto ria, ada turis-turis seperti kami yang asik selfie atau groufie, ada juga Parisian dan para love bird yang sepertinya sedang pre-wedding.

20150917_091302
IMG20150917091110
IMG20150917091216

Kami juga sempat berfoto-foto saat sedang menunggu antrian naik ke puncak Eiffel.

IMG20150917092853
IMG20150917092903
20150917_095916
IMG20150917095645

Puncak Eiffel Tower memberikan pengalaman tersendiri bagi gue. Kita bisa melihat kota Paris dari ketinggian. Gue sangat kagum dengan tata kota Paris yang begitu rapi, semuanya direncanakan dan diatur dengan sangat baik. Di puncak Eiffel ini juga ada sebuah ruangan dimana di dalamnya terdapat replika si Gustave Eiffel yang sedang berbincang dengan Thomas Alva Edison, saat mereka membicarakan ide Eiffel Tower ini. Tetapi ruangan ini tidak dibuka untuk umum, jadi kita hanya bisa melihat dari luar saja.

20150917_103915
20150917_104000
20150917_101725
IMG20150917101839
IMG20150917102133
IMG20150917102238
IMG20150917103046
IMG20150917102823

Sebenarnya ada juga sebuah resto terkenal di Eiffel Tower yang kami ingin kunjungi, sayangnya resto tersebut sudah fully booked saat kami coba reservasi online. Ya, saking terkenalnya resto ini, untuk bisa kesini memang orang-orang biasanya membuat reservasi dari 3 bulan sebelumnya.

Semua pengalaman Eiffel Tower ini bisa didapatkan dengan membayar tiket seharga 17 Euro, dan karena gue under 24 maka gue mendapat potongan harga dan hanya membayar 14,5 Euro dengan syarat membawa passpor sebagai buktinya.

IMG20150917095645

Dari Eiffel Tower kami menuju destinasi selanjutnya, yaitu mencari es krim! Kabarnya ada es krim yang enak banget di Ile St Louis, dekat Notre Dame. Sebagai pecinta es krim tentunya kami tidak melewatkan kesempatan ini. Siapa yang mencari maka dia akan mendapat, tibalah kami di tempat es krim yang sohor itu, Berthillon. Ternyata es krim nya benar-benar enak, cone nya aja enak, gue sangat menikmati es krim ini sampe remahan cone terakhir, hahaa. Para pecinta es krim, kamu harus kesini!

IMG20150917120221
IMG20150917120709
IMG20150917120630
IMG20150917120738

Setelah puas makan es krim kami sempat mampir di toko-toko coklat yang juga enak-enak sebelum akhirnya kami lunch. Di lunch kali ini, Yosua memesan set lunch yang sudah lama dia idam-idamkan. Mulai dari Appetizer: Foie Gras, Main: Duck Confit, Dessert: Creme Brulee, sedangkan gue memilih Grilled Chicken. Begini penampakannya.

Foie Gras

Foie Gras


Grilled Chicken

Grilled Chicken


Duck Confit

Duck Confit


Creme Brulee

Creme Brulee


20150917_123707
IMG20150917133746
20150917_125108

Lunch selesai, kami berjalan ke Notre Dame, salah satu katedral yang paling terkenal di Paris. Untungnya antrian saat itu tidak terlalu ramai, jadi kami bisa langsung masuk. Di dalam ternyata sudah banyak pengunjung. Kagum banget melihat arsitektur bangunan ini. Sayang sekali tidak terlalu banyak foto dari arsitektur bangunan ini yang gue ambil. Ini dikarenakan semua handphone dipegang Yosua dan prinsip Yosua “kalau foto bangunannya doank rugi, banyak di internet, mending ada kita berdua nya”. Jadi ya begitulah, hehee.

20150917_141120
20150917_141644
20150917_141620
20150917_142014
20150917_142343
20150917_142524
20150917_142745
20150917_142847
20150917_142947
20150917_144344
20150917_145955
20150917_151205
20150917_151252
20150917_151335

Oya tidak lupa dari Note Dame kami juga mampir ke Pont Neuf, yang adalah love lock bridge di Paris. Waktu kami kesini kami tidak bawa gemboknya sih, tapi cintanya jangan ditanya, ha!

20150917_153535
20150917_153428
20150917_153723
20150917_153932
20150917_154124
20150917_153748

Hari itu ditutup dengan perjalanan kami menuju Louvre, salah satu museum terbesar dan tersohor di dunia yang adalah rumah bagi lukisan fenomenal Leonardo da Vinci, The Mona Lisa. Kami tidak masuk ke museumnya walaupun awalanya gue pengen banget melihat lukisan Mona Lisa dengan mata kepala gue sendiri. Namun asa tinggalah asa saat melihat antrian masuk yang begitu panjang, terlebih hari sudah semakin larut. Bisa jadi saat kami baru berhasil masuk ke museum itu, kami sudah disuruh keluar karena museum sudah mau tutup, hahaa.

20150917_160640
20150917_160626
20150917_160050
20150917_160206
20150917_161145
IMG20150917160539

Pulangnya, kami mampir di Galeries Lafayette untuk beli-beli coklat lagi lalu makan di salah satu resto Asian Food dekat hotel karena gue pengen banget makan makanan berkuah, maklum badan yang kedinginan ini minta dinormalkan suhunya. Jadilah gue memesan mie kuah sedangkan Yosua memesan nasi goreng, ayam katsu dan beef asam manis.

20150917_183742
20150917_183800
20150917_185102

**********

Hari berikutnya kami mencoba breakfast di salah satu cafe dekat hotel kami. Seperti yang sudah gue tulis di atas, breakfast di Paris cukup mahal sebenarnya. Tetapi tetap saja kami penasaran ingin mencoba menjadi Parisian yang duduk breakfast di cafe yang nyaman di pagi hari, seperti apa sih rasanya. Benar saja, breakfast pagi itu adalah momen dimana gue jatuh cinta dengan croissant Paris, renyah di luar tetapi begitu lembut di dalamnya. Selama ini gue bukan penikmat croissant, biasanya gue lebih suka pretzel atau muffin. Tapi pagi itu merubah segalanya, croissant oh croissant.

IMG20150918081439
IMG20150918081313
IMG20150918081447
IMG20150918081502
IMG20150918081551
IMG20150918084336

Kami memulai perjalanan dengan pergi ke Sorbonne University. Begitu banyak orang-orang ternama yang mencari ilmu di universitas ini. Sambil foto-foto di sana, kami berharap bahwa nanti anak-anak kami bisa masuk ke universitas tersebut.

20150918_092012
20150918_092252
20150918_092315
20150918_092121

Dari Sorbonne kami berjalan kaki ke Pantheon, sebuah gereja yang juga adalah makam beberapa orang terkenal, seperti Louis Braille, Jean Monnet, Marie & Pierre Curie, serta Voltaire.

20150918_094227
20150918_095805
20150918_101038
20150918_101407
20150918_101101
20150918_101632
20150918_101726
20150918_102458
20150918_102756
20150918_104155
20150918_104039

Dari Pantheon, karena sekali lagi gue kedinginan maka kami mampir sebentar di McD terdekat just to buy a cup of hot tea and fries. Inilah salah satu keuntungan dari travelling sendiri tanpa grup tur, kita bisa fleksibel dengan waktu dan tempat yang akan kita kunjungi.

20150918_113804
20150918_113837

Dari McD kami berjalan lagi menuju Jardin du Luxembourg, sebuah taman yang sangat luas dan berada di tengah kota. Taman ini memiiki sebuah Palace yang tidak dibuka untuk umum dan dijaga ketat oleh militer. Jadi para pengunjung memang hanya bisa menikmati tamannya. Cukup banyak orang di sana saat itu, baik itu turis seperti kami (bahkan ada yang ke taman ini masih dengan koper-kopernya) atau orang asli Paris yang memang ingin duduk-duduk santai. Ya, yang gue perhatikan di Paris memang cukup banyak taman-taman indah di tengah kota yang cocok untuk menjadi tempat bersantai. Gue membayangkan udah mulai musim gugur aja masih banyak orang yang ke taman, apalagi saat musim panas. Kemungkinan besar mereka akan membawa tikar dan keranjang piknik, menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih atau komunitas mereka di sana. Sebuah situasi yang jarang gue lihat di Jakarta.

20150918_120412
20150918_120553
20150918_120611
20150918_120637
20150918_120717
20150918_121228
20150918_120932
20150918_121653
20150918_121338
20150918_122514

Puas bersantai di Jardin du Luxembourg, kami memutuskan untuk kembali ke daerah Pantheon, untuk lunch di daerah sana. Pilihan kami jatuh ke sebuah resto bernama, Gigolo. Ya, gue tahu namanya sedikit gimana gitu. Tapi karena siang itu ada promo lunch, yaitu gratis dessert, maka kami tanpa babibu lagi masuk ke resto ini. Gue memesan pasta sedangkan Yosua memesan risoto dan wine. Cukup sedih sebenarnya gue tidak bisa mencoba berbagai wine di Paris karena gue sedang hamil. Untuk dessert kami mendapat free espreso, tiramisu, panacotta, dan chocolate mousse.

20150918_131113
IMG20150918130853
20150918_132255
20150918_134852
IMG20150918132236
20150918_132327

Lunch kali itu lezat dan mengenyangkan. Cukup untuk kami yang hari itu akan berpindah ke Versailles. Ya, selesai lunch kami kembali ke hotel mengambil barang-barang kami dan menuju RER yang akan membawa kami ke Versailles.

Bagaimana pengalaman kami di Versailles dan merayakan ulang tahun gue dengan dinner di salah satu restoran Gordon Ramsay? Nantikan di postingan selanjutnya yaa!

There are memories that time does not erase, I think.
It nestled deep in the heart, warm us up from the inside…

With love,
Indhy

Advertisements

One thought on “,,Paris Trip: Part 1,,

  1. Pingback: ,,Paris Trip: Part 2 Birthday in Versailles,, | Cindhy Madden's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s