,,Cerita Mudik ke Jawa,,

Selamat datang kembali di ibu kota!

Tidak terasa liburan telah berakhir. Jalanan di Jakarta mulai ramai, orang-orang mulai berdatangan kembali dari kampung halaman masing-masing, dan tempat-tempat makan langganan sudah mulai beroperasi kembali. Meskipun Iyos dan gue tidak merayakan lebaran, tetapi tahun ini kami punya cara masing-masing untuk menikmatinya. Cara masing-masing? Ya, kami memang tidak melewati lebaran kali ini bersama-sama. Iyos harus berangkat ke Papua, mengemban tugas negara untuk mencari bongkahan emas di sana (ha!), sedangkan gue berkesempatan untuk mengunjungi Engkong Iyos di tanah Jawa bersama keluarganya. Sangat kebetulan karena gue memang belum pernah ke Semarang dan daerah sekitarnya, so di postingan kali ini gue akan berbagi pengalaman gue menghabiskan liburan kemarin ke tanah Jawa. Be ready for a long post..

14 July, dimulailah perjalanan gue. Gue berangkat dengan kereta dari Stasiun Gambir ke Stasiun Cimahi. Ini pertama kalinya gue bepergian menggunakan kereta seorang diri. Awalnya gue berharap akan mendapatkan kenalan baru di kereta, tapi sayang sekali ternyata kursi di sebelah gue tetap kosong sampai gue turun di Cimahi. Sampai di Cimahi gue langsung disambut dengan hangat oleh Iyes (yang memang menjemput gue dari stasiun), mama, papa, dan tentu saja Blondi (kucing kesayangan di rumah). Oya, setiap kali gue ke Cimahi, gue selalu menyempatkan diri ke Bakso Madi. Ini adalah tempat makan bakso favorit keluarga yang sudah ada sejak mama papa kami masih muda. Saking lakunya, sekarang Bakso Madi sudah bisa membeli tempat yang lebih bagus dan lebih besar. Dari yang hanya bisa menampung kira-kira 15 pelanggan, sekarang sudah bisa menampung sampai 50 pelanggan. Tempatnya pun jauh lebih nyaman sekarang, jika kamu ke Cimahi boleh coba mampir ke Bakso Madi, dijamin pasti ketagihan!

Sehari sebelum mudik, kami sekeluarga pergi ke PVJ untuk nonton 4D di blitz sebagai hadiah buat papa yang berulang tahun. Ya, sebenarnya ulang tahun papa jatuh pada tanggal 16 July, tapi karena besok kami akan mudik dan merayakannya di jalan, papa memilih untuk ulang tahunnya dimajukan satu hari, hehee. Kami merayakan ulang tahun papa secara sederhana dengan mengajak papa nonton 4D, berharap papa bisa mendapatkan pengalaman baru dan enjoy dengan filmnya. Setelah kelar nonton, kami jalan-jalan sebentar di PVJ, tidak lupa makan di Sumoboo. Oya, yang di foto di bawah ini Iyes, bukan Iyos ya 🙂

1

Dessert selesai, kami langsung pergi mencari makanan utama. Karena papa ingin makan makanan sunda, maka Raja Sunda menjadi pilihan kami saat itu.

2
3
4
5

Saat kami di sana Raja Sunda sedang penuh-penuhnya, maklum jam buka puasa. Untung saja masih ada satu spot yang kosong di lantai atas untuk kami berempat. Makanan di Raja Sunda enak dan terjangkau, tidak heran banyak orang memilih tempat ini untuk makan. Walaupun tempatnya luas, tetapi selalu penuh. Oya, mereka juga punya satu spot tempat foto bahkan menyediakan kostum untuk foto di spot tersebut. Sayangnya kostumnya hanya untuk para wanita, jadi para pria silahkan menggunakan kostum pribadi :).

6
7

17 July jam 9 pagi, hari ini kami berangkat menuju Weleri. Peserta mudik kali ini adalah gue, mama, papa, Ncek Nanang, Ncim Fanny, Tania dan Evan. Ini pertama kalinya gue melakukan perjalanan dengan mobil sehari sebelum Hari-H Lebaran. Satu kata yang menggambarkan suasana tersebut adalah MACET. Benar-benar padat dan benar-benar merayap. Jalanan sudah seperti lautan mobil. Satu pengalaman tak terlupakan saat kondisi macet seperti itu adalah MENCARI TOILET. Melaksanakan panggilan alam tentu sudah wajib hukumnya. Tapi apa daya, di kondisi seperti itu tentu kami tidak bisa berharap banyak. Saat toilet umum di Pom Bensin masih jauh dari jangkauan, toilet umum darurat warga pun menjadi jawaban. Kami, mau tidak mau, melaksanakan kewajiban kami di dalam toilet berdinding terpal dengan bertumpu pada dua batang kayu yang menjadi klosetnya. Ya, sebuah pengalaman yang cukup membekas di ingatan, hehee.

Selain kesulitan mencari toliet, kami juga dibuat deg-degan oleh macet yang seperti tak berujung itu. Masalahnya bensin mobil kami sudah mulai menipis, sedangkan macet seperti belum keliatan ujungnya. Kami pun mencoba bertanya pada orang pertama,

Kami: Permisi pak, mau tanya ini kira-kira berapa lama lagi ya sampai bisa keluar?
Orang pertama: oh, kira-kira 2 kilo lagi pak
Kami: (menarik napas lega)

Setelah dua kilo…

Kami: permisi pak, kira-kira berapa lama lagi ya?
Orang kedua: kira-kira 3 kilo pak
Kami: (mulai bingung)

Setelah tiga kilo…

Kami: pak, ini masih berapa kilo lagi ya?
Orang ketiga: tinggal 200 meter pak
Kami: (langsung tidak percaya)

Kenyataannya kami baru bisa keluar dari sana dua jam setelahnya. Entah alat ukur yang mana yang dipakai warga setempat. Entahlah, mungkin memang begini rasanya mudik. Setelah mengarungi jalanan selama kira-kira 18 jam, sampai juga kami di tempat tujuan pertama, Weleri, sekitar jam 3 subuh. Tanpa babibu lagi kami langsung menyerbu kasur dan langsung memeluk guling. Indahnya…

18 July, pagi ini Weleri terlihat cerah. Jalanan tidak terlalu ramai. Agenda hari ini adalah menjenguk Engkong di rumahnya. Tidak lama setelah menikmati suasana pagi di Weleri, Ncek Hauw (om Iyos) yang tinggal di Semarang datang membawakan Loenpia khas Semarang yang memang terkenal. Di Semarang Loenpia nya berukuran lebih besar dari yang biasa gue makan di Jakarta. Isi dalamnya pun menggunakan rebung (dalam bahasa sana: loen), berbeda dengan lumpia yang biasa gue makan yang isinya kebanyakan wortel. Loenpia Semarang dapat dinikmati dengan cabe rawit, sambel khusus yang manis, acar dan daun bawang. Penampakannya seperti ini…

8-

Setelah menikmati Loenpia Semarang, kami langsung berangkat ke rumah Engkong. Ini pertama kalinya gue bertemu dengan Engkong Iyos dan main ke rumahnya. Di sana opor dan ketupat juga sudah disiapkan untuk menyambut kami. Kami pun menyantap makanan tersebut sambil berbincang-bincang. Gue bisa melihat keluarga Iyos yang saling bertukar cerita dan berbagi pengalaman dengan saudara-saudaranya. Gue senang bisa ikut menikmati suasana ini. Banyak hikmat yang bisa gue dapatkan dari pertemuan ini. Sayangnya, saking serunya berbagi cerita kami sampai lupa foto-foto. Tidak terasa waktu sudah sore, kami diajak untuk pergi ke Pantai Cahaya, salah satu destinasi pantai terbaru di Weleri.

Beruntung sekali kami ke pantai Cahaya saat sunset dan kali ini tentu gue tidak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen-momen tersebut.

Tante Iin, Koh Eni, Mama, Papa, Ncek Nanang, Ncim Fanny

Tante Iin, Koh Eni, Mama, Papa, Ncek Nanang, Ncim Fanny


9
11
10
12
13
14
15
Kevin, Ncek Hauw, Mama, Tante Yenny

Kevin, Ncek Hauw, Mama, Tante Yenny


16

Puas mengabadikan sunset dan bermain di pantai, kami pun pulang dan menyiapkan tenaga untuk keesokan harinya.

Pagi ini perjalanan kami dimulai dengan mengunjungi Gua Maria (gue lupa tepatnya namanya apa), kami berfoto-foto sebentar di sana lalu pergi ke Sukoredjo bertemu dengan teman papa yang tinggal di sana. Dari Sukeredjo, awalnya kami berencana untuk pergi ke curug di daerah tersebut, namun karena malam harinya kami harus ke Semarang untuk menghadiri acara penghiburan salah satu keluarga dari keluarga papa, maka kami membatalkan rencana tersebut.

Pose di Gua Maria

Pose di Gua Maria


19

Di acara penghiburan papa bertemu dengan beberapa teman dari masa kecilnya. Papa yang masa kecilnya terkenal sangat jahil dan iseng menjadi tokoh utama cerita malam itu. Papa sendiri akhirnya merasa gak enak karena di acara itu bukannya menciptakan suasana tenang dan haru, malah banyak orang yang tertawa bahkan terpingkal-pingkal saat mendengar cerita tentang papa, hahaa.

Acara penghiburan sebelum keramaian dimulai

Acara penghiburan sebelum keramaian dimulai

Pulangnya, kami mampir makan di Viavo, resto asian fussion. Walaupun saat itu sudah cukup larut, tetapi resto itu masih ramai. Gue sendiri memesan Macaroni & Cheese dan pesanan gue saat itu cukup lezat.

21
22
23
24
25

20 July, pagi ini kami meninggalkan Weleri dan menuju Semarang. Sambil menunggu waktu check-in kami makan di Gama Ikan bakar & Seafood. Akhirnya gue memesan ikan bakar di sini, menu yang sudah lama tidak gue pesan karena Iyos tidak suka makan ikan. Overall seafood di sini enak, ikan dan kepitingnya enak. Gue melahap ikan bakar gue sampai bersih, sampai-sampai papa gue kaget gue bisa makan ikan sebersih itu, hahaa.

26
27

Kami menginap di @Hom Hotel, dekat simpang lima. Setelah check-in kami pun langsung mengunjungi Sam Po Kong. Klenteng Sam Po Kong dulunya merupakan tempat persinggahan seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam bernama Zheng He atau Cheng Ho. Konon Cheng Ho lah yang menyebarkan Islam pertama kali di daerah ini. Sekarang tempat ini menjadi klenteng atau tempat sembahyang dan sekaligus tujuan wisata favorit di Semarang.

Tania, Ncim Fanny, Tante Yenny, Mama, Gue

Tania, Ncim Fanny, Tante Yenny, Mama, Gue


30
31
34
35
36
37
38
39

Kami cukup lama main-main di tempat ini. Dari matahari yang masih tinggi, sampai hampir terbenam.

Matahari masih tinggi

Matahari masih tinggi


Matahari masih cukup gagah

Matahari masih cukup gagah


Matahari mulai menyerah

Matahari mulai menyerah

Alhasil tenggorokan kami langsung demo minta sesuatu yang dingin-dingin sebagai imbalannya. And we ended here…

42
43

21 July, ini hari terakhir kami di Semarang. Mumpung di Semarang kami tidak lupa main ke Lawang Sewu. Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan jaman belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS).

Lawang Sewu

Lawang Sewu


Antrian di loket tiket

Antrian di loket tiket


49
Mama was singing with the band

Mama was singing with the band

Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu.

47
48

Di depan pintu Lawang Sewu

Di depan pintu Lawang Sewu


52
The train

The train


55

Banyak cerita seram yang tersebar mengenai bangunan ini. Salah satu Ncek kami pun pernah punya cerita sendiri di sini dimana dia merasa sekelilingnya ramai dan dia berusaha mencari jalan atau pintu keluar namun tak kunjung mendapat. Untungnya seorang satpam yang sudah hapal keadaan seperti itu langsung menuntun Ncek ke pintu keluar dan menyadarkan bahwa daritadi Ncek terlihat berjalan seorang diri tanpa tujuan yang jelas. Sampai kemarin gue kesana ada beberapa ruangan yang tidak dibuka untuk umum, terlebih ruangan bawah tanahnya, jadi kita hanya bisa melihat dari luar saja. Tentu saja hal itu dilakukan bagi keselamatan dan keamanan para pengunjung. Walaupun banyak cerita seram yang mengikutinya, hal itu tidak akan membuat gue berhenti terkagum oleh arsitektur bangunan ini yang sangat kokoh dan gagah. Tidak heran karena gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag.

57
58
59

Tidak lengkap rasanya ke Semarang jika tidak mencoba salah satu resto dari jaman Belanda juga, tepat sekali Toko OEN. Resto ini adalah milik Letnan Oen Tjoen Hok dan istrinya Ny. Liem Gien Nio. Keahlian memasak sang istrilah yang punya andil besar dalam kesuksesan resto ini. Jika kita masuk ke dalamnya, kita akan disuguhi interior jaman dulu bergaya Eropa, tirai hijau, grafir di kaca, chandelier, dan bahkan seragam unik para pelayannya yang berwarna putih dan menggunakan peci. Waktu gue makan di sana ada beberapa pelayan yang sudah usia lanjut, katanya memang pelayan-pelayan di sana setia, bahkan ada yang sudah bekerja di situ lintas generasi. Wah hebat juga, sudah seperti abdi keraton!

63--
63-

Di sini gue memesan bistik sapi. Makanannya enak, satenya pun enak. Katanya kue-kue dan ice creamnya juga enak, sayang gue sudah tidak bisa pesan karena sudah sangat kekenyangan.

Bistik sapi

Bistik sapi


Salad daging

Salad daging


Chicken cordon blue

Chicken cordon blue

Malam itu ditutup dengan gue dan Evan yang naik sepeda di bundaran simpang lima Semarang. Bundaran simpang lima selalu ramai setiap malam, ada berbagai macam sepedaan dan atraksi kerlap kerlip yang disuguhkan di sana. Tanpa mau ketinggalan gue dan Evan mencoba salah satu gerobak sepeda di sana. Karena kemudinya cukup berat ditambah gue yang memang belum terlalu lancar naik sepeda, maka gue dan Evan bergantian meng-gowes sepeda tersebut. Lucunya karena kami berdua sudah tidak sanggup, kami langsung menelpon bala bantuan, Ncek Nanang pun datang membantu kami yang sudah kelelahan dan membonceng kami berdua. It was a very fun experience meskipun melelahkan memang, hahaa.

64
65

Gue dan Evan

Gue dan Evan


Gue, Ncek Nanang, Evan, Papa

Gue, Ncek Nanang, Evan, Papa

It was our last nite there. Besoknya kami pun kembali ke Weleri untuk berpamitan dengan Engkong dan kali ini tidak lupa untuk mengabadikannya.

All cast

All cast

Setelah itu kami sempat makan sate weleri yang lezat itu di rumah Engkong An & Emak Min. Awalnya kami berencana langsung melanjutkan perjalanan ke Cimahi. Tetapi karena traffic yang sangat padat, maka kami memutuskan untuk menginap semalam di Pekalongan, di rumah Mami Lely, dan melanjutkan perjalanan ke Cimahi keesokan paginya. Sampai akhirnya gue sendiri kembali ke Jakarta dengan kereta di hari Jumat.

Well, sebuah pengalaman yang luar biasa. Walaupun Weleri dan Semarang kota yang panas, namun cukup banyak tempat wisata dan makanan yang enak di sana. What a holliday! Bagaimana pengalaman kamu?

Cheers,
Ndhy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s