,,untungnya dia gak mirip capres,,

Hari-hari belakangan berjalan dengan cukup baik. Meskipun ditemani dengan cuaca yang serba tidak pasti. Kadang panas menyengat, tapi tidak lama kemudian hujan bisa turun dengan tidak bersahabat. Gue sepertinya sudah bingung mengelompokkan bulan Juni ini ke dalam musim panas atau musim hujan.

Well, di tengah cuaca yang tidak pasti, hal yang pasti adalah bahwa rakyat kita sedang heboh-hebohnya menyambut pilpress di bulan July nanti. Berbagai poster menghiasi pinggiran dan sudut jalan raya. Baliho yang biasa diisi iklan bank atau salah satu operator telepon, sekarang diisi dengan gambar para capres dan cawapres. Berbagai stasiun televisi pun menayangkan debat capres dan cawapres sebagai salah satu wadah untuk para rakyat lebih mengenal hati dan pemikiran calon pemimpin mereka, memutuskan dan memantapkan pilihan mereka.

Well, gue cukup senang ada perubahan yang cukup terlihat dalam pemilihan periode ini, yaitu kurangnya jumlah golput dibandingkan pemilihan-pemilihan sebelumnya. Rakyat saat ini mulai menyadari pentingnya hak pilih mereka dan memberikan suara mereka yang begitu berharga. However, penilaian untuk memilih tokoh-tokoh pemimpin masyarakat masih belum terlalu berbeda sepertinya. Kenapa gue bilang begitu? Karena ini terjadi di lingkungan gue.

Kadang gue berpikir tentang teman-teman gue yang memilih dengan kurang rasional sewaktu pemilihan legislatif lalu. Alasan-alasan mengapa mereka memilih seorang caleg -yang sebenarnya seharusnya lebih kepada performa politik, background, integritas, dan visi-misi mereka- terkadang sangat unik, kalau gak mau dibilang aneh.

Salah satu teman yang gue kenal menyatakan bahwa “Gue milih si DIA, soalnya itu temen bokapnya pacar gue”. Kabar terakhir, si DIA masuk DPR. Beruntunglah si DIA. Teman yang lain, menyatakan memilih si DIE karena menurut dia, “Titelnya paling banyak. Berarti dia pinter.” Hasilnya si DIE tidak masuk DPR.

Sampai pemilihan caleg tahun ini pun ada yang gue lihat memilih dengan sangat asal: begitu masuk bilik suara dia langsung mencoblos salah satu nama secara random, benar-benar ngacak, “Yang beruntung yang terpilih,” begitu moto dia. Ada juga yang ketika sudah di bilik suara, kebingungan, dia lalu menelepon temannya minta diberikan petunjuk. Seakan-akan ini adalah Who Wants to Be A Millionaire, dan dia baru menggunakan bantuan Phone a Friend. Ada seorang yang lain, kali ini sudah cukup tua, yang memilih karena nomor urut si caleg rendah. Katanya dengan muka serius, “Nomor urut rendah, biasanya berarti dia gak punya banyak duit buat beli nomor urut yang atas, kita kan harus membela orang yang lemah!”. Sungguh, baik hati sekali orang itu menurut gue. Gue jadi merasa terharu.

Saat sempat mengobrol dengan teman gue beberapa saat yang lalu, ada lagi yang lebih aneh. Dia cerita temen kos dia, para first time voters yang baru lulus SMA ramai-ramai merencanakan memilih seorang X dari Partai Y karena kata mereka “Ih dia ganteng banget lho di baliho itu”. Mereka kompakan, janjian ingin memilih X. Pada akhirnya, mereka mengurungkan niat untuk untuk memilihnya karena “pas di tipi ternyata jelek!” Gedubrak. Ternyata dampak debat capres yang mestinya positif bisa juga menjadi negatif begitu.

Ya tentu, tidak semua teman gue seperti itu. Gue berteman dengan orang-orang well-educated dan ngerti politik juga kok, hahaa.

Ada mereka yang memang informed voters, terutama teman kampus. Yah, walaupun kebanyakan juga waktu memaparkan alasan mereka mengutip quote-quote yang well-known biar terlihat keren. Tapi setidaknya, mereka punya basis yang lebih “asik” dalam memilih.

Kembali lagi, salah satu alasan paling aneh dari temannya temen gue ketika menentukan pilihannya, get this: “Gue milih dia habisnya, mukanya mirip pacar gue.”

Gedubrak.

Kemudian langsung pingsan.

Gue jadi berpikir, bisa jadi, mereka yang terpilih di DPR adalah mereka yang mukanya paling banyak mirip dengan pacar orang-orang, mereka yang ganteng, atau mereka yang punya banyak titel. Either way, ada yang salah dengan sosialisasi parpol atau ada yang salah dengan anak-anak muda sekarang… atau mungkin, gue berteman dengan orang yang salah?

Bagaimana dengan Pilpres nanti?
Masih ada alasan ganteng, banyak titel, mirip pacar?
Atau kita menggunakan hak politik kita dengan sungguh, memilih berdasarkan observasi dan analisis dari visi & misi, integritas, background, dan performa politik mereka?

Entahlah,
Tapi untungnya, pasangan gue tidak mirip Capres, tidak mirip Pak Prabowo apalagi Pak Jokowi.

Gimana? Gak mirip kan..

Gimana? Gak mirip kan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s