,,kita ada untuk selamanya,,

Satu kata yang menggambarkan perasaan ini adalah kangen. Kalau kangen bisa dijadiin duit, gue sepertinya udah jadi milyuner, rumah di menteng pasti kebeli sama gue, hehee. Tapi ya sudah gue simpan saja dulu kangennya, toh sebentar lagi akan terobati..

Oh ya, beberapa hari yang lalu sepupu gue yang dari Bali datang, dan mumpung di sini sekalian diajak keluar sama beberapa temen gue yang lainnya juga. Jadilah di satu malam kami berempat pergi makan bersama. Malam itu cukup banyak photo yang diabadikan. Kami berterima kasih sebanyak-banyaknya pada si Mba yang ada di cafe tersebut karena dengan sabar melayani permintaan dari temen gue (temen gue emang dari orok udah narsis soalnya). Mungkin sebaiknya setiap cafe sekarang mempunyai pelayan khusus untuk jasa photo-photo, atau paling tidak mereka mempunyai ‘free tongsis corner’ untuk memuaskan pelanggan-pelanggan narsis seperti temen-temen gue ini, hahaa.

1398182770032

Another shot

Another shot

and another shot

and another shot

Banyak hal juga yang diperbincangkan di sana, mulai dari suka duka temen gue yang jadi dokter, rencana pernikahan temen gue, sampai curhat temen gue yang mau move on tapi masih gerah karena terus ditarik-tarik masa lalu. Untuk ini kami banyak memberikan penghiburan dan encouragement sama temen kami itu. Ya, tenang Enjin masa depan itu sungguh ada, ganbate! 🙂

Well, dari obrolan malam itu, gue menemukan bahwa memang sebagian besar orang di dunia ini berkeinginan untuk suatu saat mereka akan menikah, mempunyai partner seumur hidup di mana mereka bisa mengekspresikan emosi dan memaparkan pikiran serta gagasan-gagasan mereka. Untuk waktu dan prosesnya tentu berbeda-beda untuk setiap orang.

Kalau boleh dianalogikan, menemukan pasangan seperti menemukan buku untuk dibaca. Pertama-tama dilihat-lihat dulu dengan seksama, kalau cover dan sinopsis-nya oke, kita melakukan pendekatan. Selanjutnya bisa ditebak, menemukan buku untuk dibaca berarti membaca lembaran demi lembaran pertamanya, kalau kita tertarik dengan paragraf pertamanya, kita akan baca lembaran berikut dan berikutnya dan berikutnya.

Menemukan pasangan, juga seperti itu. Kita pergi keluar pertama dengan orang tersebut, duduk berdua di sebuah restoran atau cafe yang nyaman, berusaha saling membuka lembaran masing-masing. Membedah mereka seperti buku: narasi seperti apa yang mereka katakan (penuh nostalgia yang dibalut emosi kah, atau sekadar memaparkan pengalaman), apakah gaya tubuh mereka cocok, dan yang paling penting: nantinya, tahankah saya membaca dia untuk waktu yang sangaaaaaaaaaaaaat lama.

Gue biasa (walopun gak sering) ngerasa emotionally attached dengan sebuah buku, kangen kalau ngga ngebaca tuh buku setelah waktu yang cukup lama. Ngerasa sayang, sampai-sampai kalau orang mau pinjem gue bakalan dengan galak teriak “engga boleh!”. Perjalanan panjang untuk jatuh cinta dengan sebuah buku, setelah dipikir-pikir cukup sama dengan merasa nyaman dengan pasangan kita masing-masing.

Namun, memiliki hubungan khusus dengan orang yang tepat punya satu kriteria khusus jua: sanggupkah kita, setelah membaca lembaran demi lembaran hidup masing-masing, tumbuh tua bareng, dan masih punya ketertarikan untuk tetap membuka lembaran berikutnya dan berikutnya, lalu menikmatinya? atau pada akhirnya ketika ketemu hanya bisa diam karena tidak ada lagi yang bisa diceritakan.. sanggupkah kita berdua untuk berada di suatu waktu di mana kita hanya bergandengan tangan dan berada dalam suasana sunyi yang penuh kenyamanan.

Sanggupkah?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan jawaban simpel seperti: “Kalau gak mampu, cari aja yang baru”. Tapi untuk direnungkan, dipikirkan, dan pada akhirnya berkata, bagaimana kalau kita tulis kisah kita berdua. Cerita dari hasil pemahaman kita atas diri masing-masing, dan ekspektasi atas apa yang mungkin nanti terjadi.

Gue sendiri mungkin termasuk orang yang menganut asas cinta yang lebih primitif dari cinta monyet. Dalam cinta monyet, kalo suka ya langsung suka aja. Berbeda dengan gue yang memikirkan begitu banyak hal sebelum membuat keputusan suka, melakukan observasi kiri dan kanan, menganalisa ke atas dan bawah, menghabiskan waktu bersama, sampai berdoa dan puasa. Dan waktu gue menulis ini gue tersenyum, karena semakin gue mengenal, memahami, membuka lembaran-lembaran berikutnya, kemudian berikutnya, semakin gue yakin kalau gue emang ingin menitipkan hati gue ke dia. Karena memang cinta itu tanpa keraguan, pada akhirnya hanya ada dua orang yang saling percaya, yang tahu bahwa kita ada untuk selamanya…

Kita ada untuk selamanya..

Kita ada untuk selamanya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s