,,saat gusi punya cerita,,

Dokter gigi. Gue yakin profesi tersebut menuai banyak respon dari orang-orang. Ada yang biasa saja, ada yang ngeri, ada yang bahkan anti dokter gigi, merasa tertipu karena dokter gigi selalu bilang ‘gak sakit kok’ padahal nyeri dan ngilu yang terasa sudah bukan main. Ya, memang tidak semua orang senang dengan dokter gigi. Yang biasa saja mungkin berpikir biasa saja, tapi yang anti bisa melihat dokter gigi layaknya malaikat penjagal dengan seringai lebar, hehee. Anyway, gue sebenarnya bukan orang yang anti atau ngeri ke dokter gigi. Bahkan gue selalu bilang bahwa ke dokter gigi itu memang bukan sebuah momok yang harus ditakuti. Tapi, pengalaman gue semalam yang cukup berkesan membuat gue bisa memahami orang-orang yang anti dokter gigi.

Kejadian semalam bermula dari empat hari yang lalu. Begitu gue bangun gue merasakan ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang tidak normal. Salah satu gusi di gigi depan gue sedikit bengkak. Awalnya gue mengabaikan hal ini. ‘ah, bentar lagi juga sembuh sendiri’ pikir gue. Malamnya, bengkaknya memang sedikit turun walaupun tidak hilang, ‘tuh, bener kan’.

Dua hari berlalu. Lagi-lagi saat gue bangun, gue merasakan ada sesuatu di dagu gue yang terasa sakit. ‘Mungkin cuma jerawat’ pikir gue sembari melangkah ke cermin dengan malas, maklum gue belum bisa mengabaikan rayuan kasur dan bantal yang sangat romantis kala itu. Waktu gue bercermin, gue tidak menemukan jerawat, secuil pun. Gue lantas membuka mulut. Dan oohhhhh tidak, bengkak gusi gue bertambah satu. Bengkak yang ini pun sedikit lebih keterlaluan dibanding yang kemarin. Bengkak gusinya sudah hampir menutup sepertiga dari gigi gue. Gue tunggu sehari, bengkak gusi gue tak kunjung membaik dan malah terasa semakin nyeri. Gue pun memutuskan untuk pergi ke dokter gigi. Gue gak mau terus-terusan bengkak begini, gue ingin gusi gue kembali sehat, karena normalnya memang seperti itu.

Pukul 6.30 petang, gue berangkat dengan cakep ke salah satu tempat praktek dokter gigi terdekat. Saat gue mendaftar, gue diberitahu kalau dokternya belum datang, gue diminta menunggu sampai jam 8 malam, karena dokter baru berangkat dari rumahnya yang tidak terlalu jauh dari tempat praktek tersebut. Gak apa-apa pikir gue. Kebetulan Nyokap gue ingin belanja barang-barang rumah tangga, jadi gue menemani Nyokap belanja dulu. Setelah selesai belanja, sekitar pukul 7.30 malam gue kembali ke dokter gigi yang sama, berharap mungkin dokternya sudah datang. Ternyata memang belom datang. Gue pun menunggu dengan manis si dokter yang janjinya tiba pukul 8.

Pukul 8, si dokter belum muncul.

Pukul 8.30, gue mulai sibuk menanyakan keberadaan si dokter pada asistennya.

Pukul 8.45, gue mulai kesel.

Pukul 8.50, asisten si dokter berkata “Maaf bu, dokternya baru sms saya, dia belum bisa datang. Katanya masih ada urusan”

Jeng jeng jeng…..

Kenapa baru bilang sekarang ??? Setelah gue menunggu dengan percuma selama 50 menit.

Dengan segala upaya untuk tenang gue menjawab “Boleh ditanya ke dokternya, urusannya bisa selesai jam berapa?”

“Maaf bu, saya tidak bisa berikan kepastiannya” sahut si asisten dengan gampang.

Saat itu, sepertinya gue ingin langsung menelan sang asisten beserta dokternya tidak perduli bagaimana bentuk mereka. Tapi ternyata hal itu tidak gue lakukan. Gusi gue terlalu sakit untuk melakukan itu, hahaaa.

Dengan helaan napas yang panjang dan dalam, gue berkata kepada sang asisten “Baik, saya memutuskan untuk tidak menunggu kalau begitu. Jujur, saya tidak senang dengan pelayanan anda. Kalau dokternya memang tidak bisa, mohon pasien diberi tahu lebih awal sehingga bisa mencari dokter yang lain. Lain kali, mohon lebih professional”

Lalu gue melangkah pergi, mencari dokter gigi yang lain sambil berdoa ‘Tuhan, lancarkan perjalananku kali ini’.

Begitu gue tiba di tempat praktek dokter gigi lainnya, gue langsung disambut ramah oleh apotekernya, dan ternyata tidak ada antrian lagi saat itu. Jadi gue langsung masuk ke dalam, memeriksakan gusi gue. Dokternya pun langsung menanyakan keluhan gue apa dan gue langsung menjawab “Ini dok, gusi saya bengkak, yang satu mulai dari dua hari yang lalu, satunya empat hari yang lalu, saya belum konsumsi obat apa pun” Lantas si dokter langsung menanyakan pertanyaan yang gue bahkan gak kepikiran “Ibu sudah menikah? Apa sedang hamil sekarang?” Gue yang kaget ditanya begitu (bingung apa hubungan gusi gue dan kehamilan) langsung menjawab “Belom menikah dok, akan sih, cuma belom. Apa hubungannya dok?” Si dokter pun menjelaskan dengan sabar “Soalnya ini juga sering terjadi pada ibu hamil, coba saya lihat gusinya. (setelah melihat sebentar) oh, ini sepertinya karena karang gigi yang masuk ke gusi”. “Oh ya? tapi saya baru sekitar 6 bulan yang lalu membersihkan karang gigi dok” bela gue. Si dokter tersenyum “Iya, mungkin dokter yang membersihkan hanya membersihkan permukaannya saja, padahal ini sudah masuk ke gusi. Gigi kamu tidak terlalu besar dan rapat dan rahangnya juga kecil, jadi karangnya masuk ke gusi. Mau saya bersihkan saja? atau sekalian mau direparasi? Gusinya yang sudah terlanjur mengembang harus dipotong sedikit supaya normal kembali”. Mendengar kata-kata dipotong itu sangat tidak enak, walaupun dokter itu mengatakan ‘dipotong sedikit’ tetap saja seperti mual rasanya. Tapi keinginan dan harapan untuk gusi gue kembali normal sepertinya lebih besar sehingga jawaban yang keluar dari mulut gue seperti ini “Baiklah dok, lakukan saja apa yang terbaik biar gusi saya sehat dan normal kembali” terdengar sangat pasrah.

Menit-menit selanjutnya pun diisi dengan pembersihan gigi gue dari karang sekaligus operasi kecil pemotongan gusi gue. Benar saja, gue gak tahu apa ini sudah menjadi template atau kalimat wajib dari seorang dokter gigi untuk pasiennya, “Tenang saja, gak bakal sakit kok”. Gue pun mencoba untuk mempercayai dokter dan ucapannya tersebut. Awalnya gue cukup tahan dalam prosesnya walaupun sesekali menahan napas, sampai si dokter mengangkat alat pemotong dan sudah siap memotong gusi gue, gue langsung bilang, “Dok, kayaknya saya dibius saja”. Si dokter pun tersenyum dan langsung melaksanakan mandat tersebut. Akhirnya operasi kecil berjalan dengan lancar. Gue pun pulang dengan bahagia, tak lupa menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya pada dokter yang berjasa besar itu.

Ya gue tahu, sebenarnya perjuangan gue belum berakhir di situ. Gue masih harus melewati detik-detik di mana bius gue mulai hilang dan nyerinya mulai muncul. Rasanya hampir sama seperti menjadi papan sasaran dari puluhan anak panah yang dilesatkan. Rasanya lebih parah daripada digigit semut api berbisa. Gue sekarang mengerti kenapa ada orang yang anti dokter gigi. But then, gue percaya bahwa Tuhan tidak pernah memberikan cobaan atau tantangan yang lebih besar dari kemampuan anakNya. Thankfully, gue gak melewati semua itu sendirian. Perhatian dari keluarga dan kekasih hati gue cukup membuat gue tenang dalam prosesnya. Dan ya, pagi ini gue sudah bisa bangun dengan bahagia karena gusi gue sudah normal kembali.

Situasi tidak normal memang seringkali terjadi, dan tidak selalu tentang gusi bengkak seperti gue. Kita punya pilihan untuk membiarkan itu begitu saja dan terus akan menjadi tidak normal atau mengambil langkah untuk mencari pemberesan dan membereskan semua itu dari akarnya (walaupun prosesnya panjang, sulit dan terasa nyeri) untuk menjadi normal kembali. Gue memilih pilihan kedua, dan sekarang senyum gue pun bisa lebih lebar dari sebelumnya. Ah senangnya…

images

PS: when you’re ready for your turn, I’ll be ready to be there, cheer you up, make sure you won’t face it all alone.

Advertisements

7 thoughts on “,,saat gusi punya cerita,,

  1. hi hallo,

    anyway, aku mengalamin hal yang sama, tapi aku belum tau apakah aku harus melakukan operasi potong gusi, aku bahkan udah di scalling 2 kali tapi masih bengkak, sebenrnya lumayan ngeri denger kata potong gusi, bisa di recomendasiin dokte diman akamu melakukan operasi kecil itu?

    thanks

    • Hi, aku kemarin operasinya di Palu bukan di Jakarta. Baiknya dikonsultasikan ke dokter dan tenang aja operasinya gak seseram kedengarannya kok :). Untuk meminimalisir kejadian bengkak gusi lagi, aku perbanyak konsumsi vit C plus pakai pasta gigi dan mouthwash Glister (produk Amway). Cepat sembuh ya 🙂

  2. Hi. Akhirnya aku potong gusi. Kemaren . Selain itu juga aku menjalanin flap surgery. Bone grafting sama frenectomy. Gusi yang dipotomg 321123. Yg belkang 1|1, jadi kemaren itu sama dokter periodntist gusi aku dikasih pelindung. Tapi semalem yg buat melindungi gusi bagian belkang copot. Karna hari ini libur aku sebenernya aku disuruh kerumah beliau buat dibikinin pelindung lg. Eh malah ga jadi karna dokternya pikir yg gusi belakang cuma di potong 1|1 jadi masih bisa aku handle sendiri kebersiahanya. Tp padahal ini gangu banget lho karna letaknya bener2 kalo ngomong atau makan kesentuh. Berdasarkan pengalaman km waktu itu abis potong gusi di kasih periodontal dressing ga? Berapa lama ya proses sembuhnya.. Aku udh 8kali bolak balik ketemu dokter sampe akhirnya kemarin oprasi. :/

  3. aku kemarin abis potong gusi karena gigi bungsuku ini.. kata dokter dari pada di cabut (karena posisi gigi sudah bagus dan rapi) mending gusi yg menghalangi di potong.. awalnya aku PD sampe pemotongan gusi.. tapi setelah dua hari kok makin sakit ya.. buat buka mulut, minum aja sakit, makan bisanya bubur walaupun rasanya sakit banget dan pas aku ngaca gusiku warnanya jadi putih yg abis dipotong trus posisi juga agak menutupi gigi lg.. (gak mungkin kan gusi dipotong lg),akhirnya rencana mau balik ke dokter lagi deh.. doain semoga semua baik2 saja dan cepat sembuh,, 🙂

  4. Hallo salam kenal. Anw bisa kasi tau ga range harga potong gusi tuh berapa ya? Termasuk operasi bedar kah? Butuh waktu brp lama untuk recovery?

  5. Hallo salam kenal. Anw boleh masih tau dng range harga potong gusi tuh brp? Puluhan juta kah? Dan brp lana waktu recovery nya? Makasi

    • Halo, aku saat itu masih ratusan ribu (excl konsultasi dokter). Mungkin harga juga tergantung RS, dokter, peralatan medis, dll. Karena ini termasuk operasi kecil recoverynya juga cepat, besoknya sudah bisa makan normal kok. Minta resep pain killer juga bisa menjadi pilihan untuk mengurangi nyerinya. Semoga infonya membantu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s