,,sepotong hati dalam perpindahan,,

Pindah.

Mungkin kata itu bisa mewakili apa yang gw alami saat ini. Gue sedang sibuk memasukkan semua barang-barang di kamar gue ke kardus-kardus cokelat yang gue dapatkan dengan susah payah (maksud gue kardusnya yang susah didapat, bukan barangnya).Gue jadi kepikiran kalau yang digambarkan di film-film atau buku-buku saat seseorang pindah maka kenangan-kenangan tertentu akan mucul bergantian, dari yang baru terjadi sampai ingatan yang paling jauh. Seiring dengan gue memasukkan barang-barang ke kardus, bermacam-macam kenangan tentang kamar ini, bahkan kota ini pun bermunculan di benak gue. Potongan-potongan flashback ini muncul. Satu setengah tahun memang bukan waktu yang cukup panjang, tetapi tetap saja ada banyak cerita yang ditorehkan dalam kenangan. Lalu sama seperti memasukkan barang-barang ke kardus, gue pun memasukkan kenangan-kenangan gue ke semacam ruang kecil di hati gue.

Memang, ini bukan pengalaman pertama gue untuk pindah. Gue pun yakin, kita semua sudah punya pengalaman pindah, karena pindah tidak selalu berbicara spesifik tentang sebuah tempat. Ketika lulus kuliah, gue mengalami perpindahan ke dunia nyata yang semakin sengit, gue mengalami perpindahan cita-cita. Gue pun mengalami pindah hubungan dengan orang tua gue. Seiring dengan gue yang semakin dewasa dan umur mereka yang semakin banyak (kalau bilang tua nanti Mama gue marah kalau baca postingan ini, hehe peace Ma), hubungan gue dan mereka semakin erat. Gw yakin semua orang pernah pindah. Pindah rumah, pindah kerja, atau mungkin pindah hati (ups!). Atau jika ada yang membaca postingan ini belum merasa mengalami hal-hal yang gue sebutin tersebut, at least sel darah merah loe selalu berpindah sejak mulai dipompa jantung hingga menyebar ke seluruh bagian tubuh loe. Benar kan? Kalau masih ada yang bilang belum pernah pindah, maka gue sedikit sangsi dengan ke-eksistensian kehidupan loe. Pelatih dance gue dulu pernah cerita, saat dia kumpul dengan teman-temannya, dia merasa sedikit out of place. Teman-temannya membawa kereta dorong berisi bayi, sedangakan pelatih dance gue masih keliling mall dengan celana pendek dan sepatu boot. Time flies, dan tanpa kita sadari, segala sesuatu di sekitar kita juga mengalami perpindahan. Hidup bisa dibilang potongan-potongan antara perpindahan satu dengan yang lainnya. Kita hidup di antaranya.

Setiap kali gue ke airport, selalu saja ada orang-orang yang hendak pergi berpelukan dengan orang-orang terkasih (yang gw atau kalian pun pernah alami). Kepindahan mereka membuat orang-orang terdekatnya sedih. The closer and longer you are with someone, the harder it is to partways. Kalau pindah diidentikan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya. Kita sering berpikir ini adalah perpisahan sehingga merasa sedih melepas hal-hal yang diakrabi, hal-hal yang selama ini membuat kita senang dan nyaman. Akhirnya, melakukan perpindahan ke tempat baru membuat kita dihantui rasa cemas. Apakah akan sama menyenangkan? Apakah akan lebih baik? Gue pun sebenarnya termasuk orang yang tidak suka pindah. Tetapi setelah gue berpikir, banyak kali untuk melakukan pencapaian lebih, kita tidak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Kita perlu untuk tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapan (kecuali Tuhan ngomong spesifik bahwa kita harus tinggal, itu beda cerita ya). Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi seorang manusia super, gue cukup bisa dengan menjadi seorang yang berani pindah.

Mas kosan yang melihat aktivitas gue bertanya dengan sopan yang membuyarkan pikiran gue “Mbak, masih perlu kardus lagi gak? Saya bisa beliin lagi kalau mau”. Setelah tersadar gue pun menjawab “Oh, gak sepertinya sudah cukup Mas. Terima kasih ya”. Mas kosan pun mengangguk lalu pergi. Gue tertegun. Mengambil waktu sejenak untuk duduk di tepi kasur, mencoba sejenak menikmati hal-hal kecil di sekitar gue. Lalu gue tersenyum. Gue berani pindah dan gue tidak mau kehilangan kebahagiaan-kebahagiaan kecil di antara semua perpindahan ini.

images

Advertisements

2 thoughts on “,,sepotong hati dalam perpindahan,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s